Apakah Masuk Akademi Kepolisian (Akpol) Harus Menyogok?

Apakah Masuk Akademi Kepolisian Harus Menyogok?

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan dimaksudkan untuk membantu orang tua Simamora Debataraja yang ingin memasukkan anak ke akademi kepolisian.  Idealnya, akademi kepolisian adalah untuk anak-anak yang berprestasi, para juara atau berkemampuan ‘istimewa’ (nilai 90 ke atas). Namun, anak ‘biasa-biasa saja’ (misalnya rata-rata rapor=75)’, masih bisa berhasil dengan motivasi ‘sekuat baja’ dan persiapan serius dan  jauh-jauh hari.

Apakah masuk akademi kepolisian harus menyogok? Opini yang beredar dan diyakini sebagian masyarakat saat ini adalah masuk polisi harus menyogok. Banyak orang percaya begitu saja, bahkan ikut menyebarkan opini tersebut tanpa mengetahui informasi sebenarnya dan proses seleksi yang dilalui. Bahkan, ada pula orang tua yang  menyiapkan uang sogok dan sibuk mencari orang yang bisa disogok (pardalan) dan lupa mempersiapkan anaknya. Ujung-ujungnya bisa dipastikan sang anak gagal (tanpa persiapan) dan yang bersangkutan menyalahkan kepolisian.

Bagaimana sebenarnya? Harap diketahui, banyak oknum yang mendatangi orang tua dan menyatakan bisa menjadikan  anaknya polisi. Banyak orang tua yang percaya dan akhirnya menjadi korban penipuan dan ujung-ujungnya menyalahkan polisi. Penipu yang menjanjikan ke tentara atau pegawai negeri sipil juga sering kita dengar.

Berikut ini adalah pengalaman saya memberangkatkan anak mengikuti tes masuk taruna kepolisian dan jawaban saya atas pertanyaan pada judul ini adalah: Tidak sama sekali.

Perlu diketahui bahwa seleksi taruna polisi dilakukan dua tingkat, yaitu tingkat daerah dan pusat. Ditingkat daerah, berikut ini urutan tes-nya.

No. Tes Tempat tes Hasil langsung diumumkan? Sistem gugur?
1 Administrasi Polres Ya Ya
2 Pemeriksaan kesehatan I Polda Ya Ya
3 Psikologi Polda Ya Ya
4 Akademik Polda Ya Ya
5 Jasmani Rindam TNI Ya Ya
6 Pemeriksaan Kesehatan II Polda Ya Ya
7 Wawancara Polda Ya Ya
8 Pantukhir Polda Ya Ya

Jumlah pendaftar di Polda Metro Jaya=2000-an, lolos administrasi=1800 peserta, lolos pantukhir= 60 peserta, lolos di panitia pusat=30 peserta. Rasio yang lolos=30 : 1800=1 : 60 (dari 60 orang yang lolos administrasi, hanya satu orang yang lolos pada tahap akhir di panitia pusat).

Seperti diperlihatkan pada tabel, di tingkat daerah ada delapan tingkat tes, semua dengan sistem gugur. Artinya, kalau gagal di satu tes, maka peserta tidak bisa ikut tes berikutnya. Setiap tes dilakukan oleh panitia pelaksana yang berbeda. Bahkan, pelaksana tes jasmani adalah TNI. Pertanyaan pertama, kalau mau main sogok, panitia di tingkat mana yang mau disogok?

Katakanlah panitia pelaksana tes psikologi mau disogok, apakah bisa? Jawabannya adalah sangat sulit atau  mustahil karena tes-nya dilakukan menggunakan komputer yang dikenal dengan CAT (computer-assisted test), dengan jumlah soal 500-an, yang terbagi ke dalam tiga sesi. Apakah panitia bisa mengubah skor? Tidak bisa, karena setiap sesi selesai, hasil langsung keluar.

Ada hasil tes yang menggugurkan, ada yang mengurangi nilai. Pada tabel di bawah ini disajikan hasil tes yang ‘menggugurkan’. Misalnya,kalau tinggi badan anak (laki-laki) adalah 158 cm dan kurang dari standar minimal 165 cm, mau dengan uang sogok 5 M pun takkan bisa lolos. Makanya banyak cerita anak perwira kepolisian pun gagal masuk akademi kepolisiam karena memang hasil tes-nya “menggugurkan”, khususnya pada tes 1-6.

No. Tes Otomatis gagal kalau
1 Administrasi Berkas tidak lengkap, nilai rapor, ijazah dan nilai UN (kalau ada) kurang, jurusan di SMA tidak sesuai
2 Pemeriksaan kesehatan I
  1. Buta warna
  2. Gigi tonggos
  3. Gigi rusak (bisa ditambal asal tidak lebih dari dua gigi)
  4. Tinggi badan kurang (laki-laki <165 cm)
  5. Rasio tinggi badan dan berat badan kurang  (terlalu kurus) atau berlebih (terlalu gemuk).
  6. Kaki X atau kaki O dengan penyimpangan 5 cm atau lebih.
  7. Kaki angsa (telapak kaki datar)
  8. Luka berkeloid dengan diameter 3 cm atau lebih
  9. Kelainan kulit atau kulit tidak sehat
  10. Dubur rusak
  11. Tulang belakang bengkok (skoliosis)
  12. Pundak miring
  13. Tampang tidak meyakinkan
3 Psikologi Nilai kurang dari 61 otomatis gagal, nilai aman  > 90)
4 Akademik Nilai kurang dari 56 otomatis gagal, nilai aman  >90)
5 Jasmani Nilai kurang dari 45 , otomatis gagal, nilai aman >90)
6 Pemeriksaan Kesehatan II Ada kelainan alat-alat vital dalam tubuh (jantung, ginjal, paru-paru), ada kelainan darah
7 Wawancara Tergantung pewawancara (usahakan memiliki prestasi yang dapat dibanggakan, misalnya juara karate se Jakarta Timur atau memiliki kemampuan khusus, misalnya bisa bahasa Perancis, yang dapat membuat pewawancara terkesan)
8 Pantukhir Tergantung penilai (usahakan memiliki prestasi yang dapat dibanggakan, misalnya juara karate se Jakarta Timur atau memiliki kemampuan khusus, misalnya bisa bahasa Perancis, yang dapat membuat penilai terkesan)

Bagaimana memperbesar peluang lolos?

Administrasi

Pastikan nilai rapor dan ijazah memenuhi. Persyaratan sangat banyak, pastikan sudah lengkap sebelum hari H pendaftaran. Ada waktu sebulan masa pendaftaran ke akademi kepolisian. Mendaftar di tanggal-tanggal awal agar kalau ada yang kurang bisa dipenuhi. Yang berpotensi bermasalah adalah kalau mendaftar di tanggal terakhir. Kalau ada berkas yang kurang, misalnya legalisasi transkrip nilai rapor SMA, pendaftar bisa kalang-kabut, apalagi kalau sekolah jauh atau sudah tutup.

Pemeriksaan Kesehatan I

Periksakan kesehatan anak ke rumah sakit jauh-jauh hari agar kalau ada kekurangan, misalnya kaki X, ada kesempatan untuk memperbaiki, dengan catatan kekurangan dimaksud bisa diperbaiki. Misalnya, gigi tonggos dapat dirapikan dengan memakai kawat gigi. Kekurangan lain yang bisa diperbaiki dengan terapi yang tepat adalah:

  • Kaki X dan kaki O ringan.
  • Kurang berat badan.
  • Berat badan berlebih.
  • Keloid.
  • Jerawat.
  • Karang gigi.
  • Gigi rusak (ditambal).
  • Gigi tonggos (pakai kawat gigi).
  • Kaki angsa.
  • Skoliosis.
  • Pundak miring.
  • Tinggi badan kurang (dengan catatan anak masih dalam masa pertumbuhan dan kekurangannya tidak ekstrim).
  • Cadel ringan.

Ada kekurangan yang tidak bisa diperbaiki, misalnya buta warna. Apa yang dilakukan? Tidak ada. Carilah jalur karir lain selain akademi kepolisian. Apabila kita sampaikan tujuan pemeriksaan kesehatan, pihak RS biasanya memberikan rekomendasi untuk memperbaiki kekurangan yang masih bisa diperbaiki.

Psikologi

Tes psikologi dilakukan dengan mengisi soal-soal (berjumlah sekitar 500-an) dengan menggunakan komputer (CAT, computer-assisted test). Persiapan yang diperlukan adalah latihan mengerjakan soal-soal tes sebanyak mungkin. Ikut bimbingan belajar khusus sangat bermanfaat. Namun, apabila tidak mampu, belajar secara online juga bisa.

Akademik

Sama dengan psikologi, tes akademik juga dilakukan menggunakan CAT. Peserta mengerjakan soal-soal sebanyak mungkin sebelum tes, baik secara mandiri maupun melalui bimbingan belajar, sangat membantu.

Jasmani

Tes jasmani, yang disebut juga tes kesamaptaan meliputi lari 12 menit (jarak ideal=3400 meter), push up (repetisi=44 kali), pull up (repetisi 18 kali), sit up (repetisi= 45 kali), lari angka 8 (15 detik), renang 25 meter (16 detik). Dibutuhkan waktu lama untuk persiapan, idealnya sejak SD anak sudah kursus renang dan latihan atletik, sehinggga saat tes memiliki kemampuan seperti seorang atlit. Kalau tanpa persiapan atau persiapan dilakukan buru-buru (misalnya sebulan sebelum tes), peluang lolos anak sangat kecil.

Pemeriksaan Kesehatan II

Kalau pemeriksaan kesehatan I fokus pada fisik luar, maka pemeriksaan kesehatan II fokus pada keadaan dalam tubuh. Apabila jauh-jauh hari anak sudah melakukan check up, maka dokter akan memberikan rekomendasi apa yang perlu dilakukan kalau ada yang yang kurang. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua:

  1. Melarang anak merokok agar paru-paru sehat.
  2. Mengondisikan agar anak selalu tidur tepat waktu dan bangun tepat waktu (jangan begadang)
  3. Mengurangi makanan tidak sehat.
  4. Menambah porsi sayuran dan buah-buahan pada menu makanan.
  5. Membatasi suplemen protein (bila digunakan) untuk mencegah kerusakan ginjal atau ureum berlebih.

Wawancara

Wawancara menggali lebih dalam kecerdasan, motivasi, kepribadian dan kepemimpinan anak. Wawancara biasanya dilakukan oleh ahli. Sama seperti dosen penguji skripsi, hanya dengan melihat presentasi saja sudah tahu kemampuan si mahasiswa. Jadi, seorang calon taruna tidak bisa bersembunyi atau berpura-pura dalam wawancara. Membiasakan anak ikut organisasi, apalagi menjadi ketua (misalnya jadi ketua OSIS, pelatih paduan suara, ketua NHKBP) dapat meningkatkan mental dan kepribadian mereka.

Pantukhir

Mereka yang ikut pantukhir adalah yang secara kualifikasi sudah memenuhi syarat. Melihat rasio yang lolos (1 : 60), mereka yang ikut pantukhir adalah “best of the best. Beda nilai antar peserta pantukhir sangat tipis, berada pada kisaran nol koma sekian. Misalnya, A adalah peringkat ke-29 dengan nilai 91.27, B adalah peringkat ke-30 dengan nilai 91.25.  Kualitas para peserta yang masuk pantukhir tidak lagi berbeda signifikan alias sama. Siapa yang terbaik di antara A dan B? Itu ama seperti menjawab pertanyaan, siapa yang lebih cantik, Lyodra Ginting ataukah Velove Vexia? Jawabnya tergantung penilai, namun memiliki prestasi yang dapat dibanggakan (misalnya juara renang antar klub) atau kemampuan khusus (misalnya pelatih paduan suara) dapat memperbesar peluang lolos.

Kesimpulan

Keberhasilan masuk akademi kepolisian adalah tergantung kemampuan anak dan persiapan menghadapi tes. Apabila ingin sukses, maka persiapan harus dilakukan terencana dan jauh-jauh hari. Kenapa banyak anak perwira yang masuk akademi kepolisian? Karena orang tuanya sudah tahu apa yang dites dan telah mempersiapkan anak sejak TK atau SD, minimal latihan lari dan pembentukan fisik. Jadi,  kita para orang tua, berhentilah bersikap skeptis dan fokuslah mempersiapkan anak jauh-jauh hari, bahkan sejak mereka di Sekolah Dasar (SD).

Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *